Kampung Jagalan terbentuk pada akhir abad ke-19. Kampung Jagalan terbentuk dari suatu perkumpulan masyarakat yang berprofesi berhubungan dengan jagal atau penyembelihan hewan. Daerah Jagalan dulunya merupakan daerah yang dikepalai oleh seorang lurah dari Keraton Surakarta. Daerah Jagalan adalah tempat penyembelihan hewan untuk memenuhi kebutuhan daging di kota Surakarta. Dari proses itu lebih kurang ada 70 sampai 80 hewan yang disembelih tiap harinya. Hewan yang disenbelih adalah sapi dan juga kerbau. Di kampung Jagalan sendiri dulu beroperasi banyak rumah pemotongan hewan.

Warga yang tingal pun mempunyai kebudayaan tinggal berhubungan dengan proses tersebut antara lain adanya produksi rambak yang berasal dari kulit sapi yang semuahya berasal dari kegiatan penyembelihan. Dengan berkembangnya zaman para jagal pun lama-kelamaan mulai menutup usahanya. Sampai pada saat ini hanya ada satu tempat penjagalan yang masih difungsikan. Para jagal mulai menutup uashanya karena adanya banyak kerugian karena banyaknya penipuan yang terjadi.

Untuk mitos yang berkembang di daerah jagalan sendiri adalah mitos tentang daerah kalangan. Daerah kalang terbentuk dari perkumpulan penduduk kalang. Kalang sendiri adalah para ahli kayu yang sangat ahli. Menurut mitos orang kalang kemungkinan bukan penduduk asli jawa. Orang kalang dianggap mempunyai strtuktur sosial paling rendah. Mitos orang kalang adalah tentang bahwa orang kalang adalah keturunan dari manusia dengan binatang. Selain itu orang kalang dianggap telah kawin dengan keluarga mereka sendiri (inses) sehingga di anggap sama dengan binatang.

Pada masa Sultan Agung dari Mataram, orang kalang mulai dikumpulkan dan dijadikan abdi dalem kraton yang bertugas sebagai pembuat bangunan istana, karena kemampuan mereka dalam memahami jenis-jenis kayu yang baik digunakan untuk pembuatan bangunan rumah. Ketika kerajaan mataram dipecah menjadi dua para kalang pun dibagi menjadi dua, setengah dari jumlah kalang ikut ke yogyakarta dan setengah lainnya menetap di kraton surakarta.